Biografi Muhammad Ali, “The Sportsman of the Century”




Masa Kecil dan Remaja

Muhammad Ali dilahirkan dengan nama awal Cassius Marcellus Clay, Jr. Sosok yang dilahirkan pada 17 Januari 1942 silam di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat yang terkenal dengan ayam goreng khasnya juga perbedaan etnis yang kental itu merupakan seorang mantan petinju professional keturunan Negro yang pada zamannya dianggap memiliki kedudukan dan martabat yang lebih rendah dibandingkan orang berkulit putih. Ayahnya bernama Cassius Marcellus Clay, Sr yang berprofesi sebagai pelukis papan nama dan reklame di pinggir jalan, sedangkan Ibunya yang bernama Odessa Grady Clay berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Rudolph Rudy Clay yang kemudian berganti nama menjadi Rahman Ali.
Siapa yang menyangka bahwa kehilangan sepeda BMX baru miliknya pada tahun 1954 silam mengantarkan Ali kepada kancah pertijuan. Semuanya berawal ketika Ali masih berusia 12 tahun. Sepeda yang baru saja dibelikan oleh orangtuanya raib diambil pencuri. Ali kecil pun akhirnya melaporkan kejadian ini kepada seorang polisi di Louisville yang bernama Joe Martin yang kebetulan juga merupakan seorang pelatih tinju. Akhirnya Martin pun mengajari Ali untuk bertinju agar dapat menghajar si pencuri. Ali sangat antusias dalam berlatih tinju di bawah bimbingan Martin. Musibah inilah yang membuat Ali berkenalan dengan dunia tinju yang kemudian digeluti-nya hingga menjadi juara dunia tinju sejati.
Sejak kecil, Ali sudah merasakan perbedaan perlakuan yang dikarenakan oleh warna kulitnya. Hal inilah yang kemudian mendorongnya untuk belajar tinju agar dapat membalas perlakuan jahat teman-temannya yang berkulit putih disamping tujuan awalnya yaitu untuk menghajar si pencuri. Ali pun diberi karunia yang memudahkannya berlatih tinju, yaitu kelebihan fisik serta otot yang kuat.

Masa Keemasan Karir

Bagi penggemar tinju dunia, tentu tak asing dengan nama Muhammad Ali, mantan juara dunia kelas berat enam kali. Di masanya, Ali terkenal sebagai seorang petinju yang sangat ditakuti oleh lawan-lawannya. Dan, ia pun dijuluki sebagai The Greatest (terbesar), karena dia mampu menaklukkan petinju-petinju terbesar di zamannya, seperti George Foreman, Sony Liston, Joe Frazier, Ken Norton dan lainnya. Bahkan, pertarungannya melawan Foreman serta Joe Frazier menjadi pertarungan terbaik sepanjang abad ke-20. Dan, Ali pun juga dinobatkan sebagai seorang petinju terbesar di abad 20. Bahkan, gelar itu telah mengubah status pandangan masyarakat terhadap orang dan atlet berkulit hitam. Keberhasilannya itu pun yang akhirnya mengangkat martabat para atlet kulit hitam ke tempat yang tinggi dengan penghormatan dan penerimaan yang baik dari masyarakat kulit putih.
Ali pernah menjadi sebuah “mesin pemukul” yang sangat hebat sehingga menimbulkan rasa takut pada lawannya. Hingga kini, namanya tetap diakui sebagai petinju terbaik yang pernah dimiliki publik Amerika Serikat dan orang kulit hitam. Karir Ali dalam dunia pertinjuan kelas berat tercatat sebanyak 61 pertandingan, 56 pertandingan diantaranya dimenangkan, 37 diantaranya dimenangkan secara knockout (K.O.), sedangkan 5 pertandingan lainnya ia kalah.
Muhammad Ali pertama kali memenangkan pertandingan tinju pertamanya saat ia masih berusia 12 tahun. Lawannya dikalahkan dengan angka tipis. “Saya adalah yang terhebat. Saya akan menjadi juara dunia,” kata Ali seusai pertandingan. Enam tahun berselang, keahlian Ali semakin bertambah dengan keberhasilannya mengalahkan petinju-petinju tangguh di Olimpiade Roma, 1960. Usia Ali saat itu menginjak 18 tahun. Ia meraih medali emas kelas berat ringan.
Selama karir amatirnya, total debut pertandingan Ali tercatat sebanyak 105 kali. Ali menang sebanyak 100 kali dan kalah sebanyak 5 kali. Tak lama kemudian, tepatnya pada 29 Oktober 1960 ia memulai debutnya sebagai petinju profesional melawan Tunney Hunsaker. Ali menang angka dalam pertarungan 6 ronde.
Setelah empat tahun kemudian tepatnya pada 25 Februari 1964 Ali berhasil merebut gelar juara dunia kelas berat dengan menang TKO ronde 7 dari 15 ronde yang direncanakan atas Sonny Liston di Florida, AS. Pertandingan itu diberi nama “Clay Liston I”. Kemenangan itu membungkam keraguan banyak orang akan pertarungan ini. Pertarungan ini berlangsung singkat dan berakhir sebelum bel ronde ke-tujuh berdering. Saat itulah Ali benar-benar menjadi juara dunia. Liston mengalami cedera pada leher yang membuatnya tak merespon dan mengundurkan diri dari jalannya pertandingan.




Ali memiliki cara unik sebelum bertanding melawan Liston. Ia mendatangi rumah tetangganya satu per satu. Ia ketuk pintu setiap rumah yang didatanginya dan mengatakan bahwa dialah juara dunia sejati. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mengokohkan mentalnya untuk melawan Liston, juara dunia tinju kelas berat saat itu. Tetangganya keheranan. Ali dianggap bercanda bahkan tidak waras.
Padahal, saat itu Ali-lah menjadi underdog. Sebelum pertandingan, denyut nadi Ali mencapai angka 120 kali per menit, sangat jauh dari kebiasaannya yang berkisar 50-60 kali per menit. Hal ini diperkirakan merupakan kegelisahan Ali sesaat sebelum melawan rivalnya itu. Namun ketika pertarungan berlangsung, ia berhasil mengubah kegelisahannya menjadi sebuah “alat” untuk memecut semangatnya. Liston adalah petinju yang ditakuti karena memiliki pukulan yang sangat keras yang membuat lawannya bertumbangan di atas ring tinju. Muhammad Ali menjadi juara dunia tinju kelas berat ini pada usia 22 tahun, usia yang masih sangat belia. Hal ini membuat ia dinobatkan menjadi pemegang rekor petinju termuda yang berhasil meraih gelar tersebut. Jagat tinju dunia pun sontak geger dibuatnya.
Karir Ali di dunia pertinjuan pun berlanjut. Pada 25 Mei 1965, Ali melakukan tanding ulang melawan Liston. Pertandingan tersebut dinamakan “Ali Vs. Liston II” yang penuh kontroversi. Pukulan Ali yang begitu cepat menimbulkan spekulasi di kalangan para ahli tinju yang menyebut pukulan Ali sebagai “Phantom Punch.” Pukulan itu begitu cepat, sehingga tidak tampak mengenai Liston yang roboh. Banyak isu-isu yang berkembang, diantaranya termasuk suap dan ancaman orang-orang Nation of Islam (organisasi yang menjadi tempat Ali bernaung setelah memeluk Islam) terhadap Liston dan keluarganya. Tapi Liston membantah semua itu dengan menyatakan pukulan Ali menghantam-nya dengan keras.
Kontroversi kembali dilakukan Ali, walau kali ini bukan di atas ring tinju. Pada tahun 1967-1970 (selama tiga tahun) Ali dikenakan skors oleh Komisi Tinju karena menolak program wajib militer pemerintah Amerika Serikat dalam menghadapi perang Vietnam. Bukan hanya diskor, namun gelar yang berhasil ia raih pun dicabut serta ia dijebloskan ke dalam penjara. Ungkapannya yang terkenal dalam menolak wajib militer ini adalah, "Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger!".



Muhammad Ali pun sempat mengalami kekalahan ketika bertarung melawan Joe Frazier pada tanggal 8 Maret 1971 di New York, Amerika Serikat. Pertandingan itu diberi tajuk “the Fight of the Century”. Pada saat itu, kekalahan Ali disebabkan oleh kalah point dan Ali harus rela untuk melepaskan “mahkotanya” sebagai juara dunia tinju kelas berat kepada rivalnya itu. Joe Frazier menang mutlak atas Muhammad Ali dalam pertarungan melelahkan tersebut selama 15 ronde. Joe, pemegang sabuk juara tiga versi badan tinju, bertarung menghadapi Ali, seorang petinju yang tak terkalahkan. Pada ronde ke-11, Ali hampir saja roboh setelah terkena hook kiri Joe. Ali kalah mutlak 8-6-, 19-6, dan 11-4. Itu-lah awal dari “trilogi maut.”

Kekalahan Ali yang kedua pun terjadi pada 31 Maret 1973. Kali ini ia harus bertekuk lutut ketika melawan Ken Norton. Dalam duel maut yang berlangsung selama 12 ronde ini, Norton dinyatakan sebagai pemenang setelah skor yang diperolehnya mengalahkan skor Ali. Tak tanggung-tanggung, Ali mengalami cedera yang serius dikarenakan rahangnya yang patah akibat serangan beringas Norton. Akhirnya Norton pun dijuluki “si Penghancur Rahang” akibat aksinya ini. Norton pun menjadi petinju kedua yang berhasil melumpuhkan Ali “The Greatest” selama karir profesionalnya. Duel Ali Vs. Norton pernah berlangsung tiga kali dimana dua diantaranya dimenangkan oleh Ali.
Pada 28 Januari 1974, duel bebuyutan yang kedua kalinya terjadi antara Ali dan Frazier di Amerika Serikat. Pertandingan ini diberi tajuk sebagai “Ali Vs Frazier II”. Hasilnya, Ali berhasil menang untuk pertama kalinya kerika melawan Frazier.
Pada 30 Oktober 1974, untuk kedua kalinya sejak 25 Februari 1964 , Ali berhasil merebut kembali gelar juara dunia kelas berat WBC dan WBA setelah mengalahkan George Foreman di Kinsasha, Zaire, pada ronde ke-8. Pertandingan itu dikenal sebagai “Rumble in the Jungle.”. Keadaan Ali saat itu tidak diunggulkan. Pasalnya selain sebagai juara dunia, George Foreman memiliki rekor yang sangat menawan yaitu tidak pernah kalah selama 40 kali pertarungan. Selain itu, Foreman baru saja merobohkan Ken Norton, dan Joe Frazier yang sebelumnya berhasil menjadi juara dunia kelas berat serta berhasil membuat Ali bertekuk lutut. Keduanya dikalahkan oleh George Foreman pada ronde kedua.


Setahun kemudian, pertandingan mengesankan lainnya dipersembahkan Ali pada 1 Oktober 1975. Presiden Ferdinand Marcos memboyong pertandingan Ali versus Frazier untuk yang ketiga kalinya ke kota Manila, Filipina. Publik menamai pertarungan tersebut “the Thrilla in Manila.” Ali menang TKO pada ronde ke-14 dalam pertandingan yang sangat seru dan menegangkan, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu “pertandingan tinju terbaik abad ini.”.
Frazier yang kelelahan akhirnya terpaksa menyerah dan tidak melanjutkan pertarungan pada istirahat menjelang ronde ke-15. Setelah itu, saat akan wawancara dengan televisi, Ali terjatuh karena kehabisan tenaga. Setelah istirahat beberapa menit, wawancara baru bisa dilakukan, tapi Ali harus duduk di bangku karena sudah kehabisan tenaga. “Frazier adalah petinju terhebat yang pernah saya hadapi,” kata Ali saat itu.
Ali kembali mengukir sejarah pada 15 September 1978 ketika ia mengalahkan Leon Spinks dengan angka dalam 15 ronde di New Orleans, Amerika Serikat. Ali mengukuhkan dirinya sebagai petinju pertama yang merebut gelar juara kelas berat sebanyak 3 kali. 


Namun pada 6 September 1979, dunia pertinjuan sempat dibuat gempar setelah Ali menyatakan mundur dari ring tinju dan gelar juara dunia dinyatakan kosong. Suatu keputusan yang sangat bijaksana mengingat faktor kesehatan Ali yang akan semakin menurun seiring perjalanan waktu.
Setahun kemudian “Ali is Back!”. Suatu ungkapan yang tepat ketika Ali kembali ke ring tinju pada tanggal 2 Oktober 1980. Ia melawan bekas kawan latih tandingnya, Larry Holmes, yang telah menjadi juara dunia kelas berat dalam pertandingan yang diberi judul “The Last Hurrah.” Dalam pertandingan yang berat sebelah, Ali tidak mampu berkutik, sedangkan Holmes tampaknya tidak tega untuk “menghabisi” Ali yang tak berdaya. Ali menyerah dan mengundurkan diri pada ronde ke-11. Holmes dinyatakan menang TKO terhadap Ali.


Meski telah mengidap gejala sindrom Parkinson yang belum ada obatnya, Ali yang jiwanya telah terpanggil untuk menjadikan tinju sebagai jalan hidupnya pun belum mau mengibarkan bendera putih dan tetap ingin bertanding kembali. Sekali lagi, pada 11 Desember 1981 silam, Ali yang sudah uzur mencoba kembali ke dunia tinju melawan Trevor Berbick di Bahama dalam pertandingan yang diberi tajuk “Drama in Bahama.” Dalam kondisi renta itu, Ali mampu tampil lebih bagus daripada saat melawan Holmes, walaupun akhirnya harus menelan kekalahan yang pahit saat kalah angka 10 ronde. Setelah pertandingan itu, Ali benar-benar pensiun seutuhnya dari dunia pertinjuan yang telah mengibarkan namanya itu.


Kini Ali tidak bisa lagi menari-nari dan beraksi. “Float like a butterfly, sting like a bee”. “Kejarlah saya, saya menari, saya menari. Coba ikuti saya,” ujar Ali pada setiap lawannya. Parkinson menggerogoti tubuhnya sejak 1984. Meski penyakit itu belum ada obatnya, Ali tetap tidak mau menyerah. Ia bahkan sempat tampil sebagai pembawa obor saat Olimpiade Atlanta pada 1996. Saat itu, jutaan penonton televisi harus menahan haru ketika melihat Ali yang perkasa berjuang keras mati-matian untuk mengatasi gemetar di tangannya demi menyulut obor Olimpiade yang berlangsung di Atlanta, Amerika Serikat.



Kehidupan Spiritual

Ali mengucapkan kedua kalimat syahadat di atas ring tinju, diiringi kilatan kamera dan tepuk riuh penonton serta disaksikan jutaan penonton layar kaca di seluruh dunia setelah menang melawan Sony Liston pada 25 Februari 1964. Ia mengumumkan nama barunya saat itu, yaitu Muhammad Ali. Nama ini merupakan pemberian seorang tokoh Muslim dari Nation of Islam (NOI), Elijah Muhammad, tahun 1964. Ketika itu, Elijah membuat sebuah pernyataan umum dalam suatu siaran radio dari Chicago, ”Nama Clay ini tidak menyiratkan arti ketuhanan. Saya harap dia akan menerima dipanggil dengan nama yang lebih baik. Muhammad Ali, nama yang akan saya berikan kepadanya selama dia beriman kepada Allah dan mengikuti saya.” kata Elijah.
Nama Muhammad sendiri merupakan sebuah nama yang sangat menakjubkan yang diambil dari Nabi panutan umat Islam, yaitu Nabi Muhammad SAW, sedangkan Ali merupakan nama yang diambil dari menantu Nabi Muhammad SAW yang juga merupakan salah satu dari keempat Khalifah pengganti Nabi SAW. Ketika kedua nama tersebut dirangkaikan, maka akan menjadi Muhammad Ali.
“Ini sesuai fitrahku sebagai manusia ciptaan Allah”, kata Ali saat ditanya alasan keputusannya memeluk Islam. “Islam tidak membeda-bedakan warna kulit, etnis, dan ras. Semuanya sama di hadapan Allah SWT. Yang paling utama di sisi Tuhan mereka adalah yang paling bertakwa. Aku meyakini bahwa aku sedang berada di depan sebuah kebenaran yang tak mungkin berasal dari manusia”, lanjut Ali.
Kembalinya Ali ke fitrah kebenaran membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berfikir, ini dimulai tahun 1960, ketika seorang teman muslim menemaninya pergi ke masjid untuk mendengarkan pengajian tentang Islam. Ketika mendengarkan ceramah, Ali merasakan panggilan kebenaran memancar dari dalam jiwanya, menyeru dirinya untuk menggapainya, yaitu kebenaran hakikat Allah, agama dan makhluk.
Masuk Islamnya bukanlah akhir dari segalanya tapi baru permulaan, karena hari itu adalah hari kelahirannya yang sebenarnya. Dia memulai hidup barunya dari sini, dia tinggalkan seluruh masa lalunya yang bertentangan dengan Islam dan memfokuskan perhatiannya hanya kepada Allah. Surat yang pertama kali dia hafal adalah surah Al-Fatihah yang memulai perjalanan kedamaian serta keimanan.
Ia membandingkan antara ajaran Trinitas dengan ajaran Tauhid dalam Islam. Menurutnya, Islam lebih rasional. Karena, tidak mungkin tiga Tuhan mengatur satu alam dengan rapi seperti ini. Hal tersebut dinilainya sebagai suatu hal yang mustahil terjadi dan tidak akan memuaskan orang yang berakal dan mau berpikir.
Keyakinannya terhadap Islam makin bertambah manakala Ali membaca terjemahan Al-Qur'an. ”Aku bertambah yakin bahwa Islam adalah agama yang hak, yang tidak mungkin dibuat oleh manusia. Aku mencoba bergabung dengan komunitas Muslim dan aku mendapati mereka dengan perangai yang baik, toleransi, dan saling membimbing. Hal ini tidak aku dapatkan selama bergaul dengan orang-orang Nasrani yang hanya melihat warna kulitku dan bukan kepribadianku.”, paparnya.
Sejak saat itu, ia kerap membelanjakan uangnya beberapa ratus ribu dolar untuk buku-buku dan pamflet-pamflet Islami demi memperkenalkan agama barunya itu. Dia percaya bahwa bukan hanya kaum Muslim, tetapi juga orang Kristen dan Yahudi yang takut pada Tuhan juga akan masuk surga.
Selama tiga tahun sebelum pertarungannya untuk memperebutkan gelar juara dunia kelas berat dengan Sonny Liston, Ali telah menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh NOI (Nation of Islam). Kehadiran Ali diberitakan oleh koran Daily Nezus di Philadelphia pada September 1963. Pada Januari 1964, dia membuat sensasi besar dengan berbicara di sebuah rapat Muslim di New York.
Beberapa minggu kemudian, ayahnya mengatakan bahwa Ali telah bergabung dengan NOI. Kendati demikian, Ali belum memberikan pernyataan publik tentang keikutsertaannya dalam NOI. Akan tetapi, dia sibuk mempelajari Islam di bawah bimbingan Kapten Sam Saxon (sekarang Abdul Rahman) yang dijumpai Ali di Miami pada 1961.
Ali juga merenungkan ajaran Islam dan membaca surat kabar yang diterbitkan NOI. Di samping itu, ia juga mencari bimbingan dan saran dari Malcolm X, tokoh NOI lainnya, yang dijumpainya di Detroit pada awal 1962.
Sebelum pertandingan Ali melawan Liston, Malcolm mengunjungi Ali sebagai pribadi, bukan sebagai wakil Elijah. Malcolm menganggap Ali sebagai adiknya dan menasihatinya. Nasihat Malcolm ini justru menjadi pemicu semangatnya untuk bertekad mengungguli Liston. Walaupun merasa takut menghadapi Liston, akhirnya Ali menang dalam pertandingan. Pertandingan tersebut berakhir sebelum bel ronde ketujuh berbunyi. Dengan kemenangan tersebut, dunia memiliki seorang juara baru di arena tinju.
Muhammad Ali berziarah ke Mekkah Al-Mukarromah tahun 1973, berkali-kali dia kesana dan juga ke Madinah Al-Munawwarrah. Dia memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sebelum masuk Islam, dan memohon kepada-Nya agar memberinya husnul khatimah.
Pada buku biografi Ali yang diluncurkan pada tahun 2004, Ali mengaku sudah tidak bergabung dengan Nation of Islam, tapi bergabung dengan jamaah Islam Sunni pada tahun 1975.
Ketika para dokter di Amerika Serikat memvonisnya dengan penyakit Sindrom Parkinson, Ali mengatakan bahwa dia telah mendapatkan hidup yang baik sebelumnya dan sekarang. Dia tidak membutuhkan simpati dan belas kasihan. Dia hanya ingin menerima kehendak Allah SWT. Penyakitnya ini, menurutnya, merupakan cara Allah SWT merendahkannya untuk mengingatkan pada kenyataan bahwa tak ada seorang pun yang lebih hebat dari Allah.
Perjuangan Ali yang utama sekarang adalah mencoba mencari ridho Allah dalam segala hal yang diperbuatnya. Menguasai dunia tidak membawanya kepada kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan sejati, katanya, hanya didapatkan dengan menyembah Allah. Kini, dia termasuk orang-orang yang giat berdakwah di Amerika dan aktif mengampanyekan solidaritas dan persamaan hak.
Dengan sikap yang tegar, kuat, dan penuh percaya diri, Muhammad Ali merupakan seorang muslim yang benar-benar menjalankan keyakinannya dengan sangat baik. Putri Muhammad Ali yang bernama Hanna Yasmeen Ali, buah perkawinannya dengan Veronica Porche Ali (istri ketiga) pernah mengungkapkan kehidupan dan spiritualitas Muhammad Ali. Hanna mengatakan, ayahnya adalah orang yang sangat taat dalam menjalankan perintah agama. Bahkan, ia tak segan-segan untuk bersikap keras dan tegas terhadap anggota keluarganya yang tidak mau menjalankan perintah Allah. Sikap ini dibuktikan Ali dengan menceraikan istrinya yang pertama, Sonji Roi, pada tahun 1966. Karena, menurut Ali, istrinya tersebut tidak menunjukkan sikap sebagai seorang Muslim.
Hanna menambahkan, ayahnya tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. ”Sesibuk apa pun, ayah akan senantiasa mengerjakan shalat lima waktu,” ujar Hanna. Bahkan, Ali juga senantiasa berupaya melaksanakan shalat fardhu secara berjamaah di masjid. ”Walaupun jaraknya membutuhkan waktu hingga 20 menit perjalanan, ayah akan selalu berupaya pergi ke masjid.” jelas Hanna.
”Spiritualitas ayah saya sangat tinggi. Dari sikapnya yang sangat religius itu, ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, menyayangi sesama, melakukan kegiatan sosial, dan mendorong banyak orang untuk senantiasa rajin mendekatkan diri kepada Tuhan,” terangnya lagi.
Ketika terjadi peristiwa 11 September 2001 akibat serangan teroris terhadap dua menara kembar World Trade Center (WTC) hingga memunculkan tuduhan terhadap Islam sebagai agama teroris, Ali pun tampil ke publik dan menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan oknum dan bukan Islam. Ia menyatakan, aksi tersebut merupakan perbuatan orang-orang yang keliru dalam memahami Islam secara benar. ”Islam adalah agama yang damai dan cinta akan kedamaian”.
Ali pun kerap memberikan nasehat kepada anak-anaknya agar senantiasa menjalankan perintah Allah. Ini dibuktikan ketika Hana (putri Ali dari Veronica) menginjak remaja, ia pertama kali bertemu dengan ayahnya sesudah perceraiannya. Pertemuan singkat itu terjadi di Hotel Disneyland, Anaheim, California dimana Ali dan istrinya saat itu, Lonnie sedang menginap. Saat itu, Hana mengenakan kaos tank top mini berwarna putih dan sepotong celana pendek berwarna hitam. Ketika Ali masih menjadi istri ibunya, Hana tidak pernah mengenakan pakaian minim seperti itu. Ketika sampai, pak supir mengantarkan Hana dan adiknya Laila ke kamar sang Ayah. Seperti biasa, Ali sang Ayah bersembunyi di balik pintu untuk mengejutkan kedua putrinya itu. Mereka bertiga saling berpelukan dan melepas kerinduan selama seharian itu. Ali memperhatikan kedua putrinya dengan seksama. Naluri sang ayah membuat Ali menatap kedua bola mata putrinya dalam-dalam, sembari berkata, “Hana, segala sesuatu yang Allah jadikan berharga di dunia ini semuanya disembunyikan dan sulit untuk dijangkau. Dimana engkau akan menemukan permata? Jauh di dalam tanah, tersembunyi dan terlindungi. Dimana engkau akan menemukan mutiara? Jauh di dasar samudra, tertutup dan terlindungi oleh cangkang yang indah. Dimana engkau akan menemukan emas? Jauh di dalam tambang, tertutup oleh berlapis-lapis batuan. Engkau harus berusaha keras untuk mendapatkan semua itu.” terang Ali kepada putrinya itu. “Tubuhmu masih suci. Engkau lebih berharga daripada permata, mutiara, bahkan emas. Oleh karena itu, tubuhmu harus ditutupi juga”, lanjut Ali.
Apa yang dinasihatkan Ali kepada putrinya adalah hal yang benar. Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk berhijab. “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”, Hadist Riwayat Imam Muslim.

Ali dan Indonesia

Ali, yang pernah dinobatkan sebagai “Petinju Terbesar Abad ini” oleh BBC dan “The Sportsman of the Century” oleh Sport Illustrated pada tahun 1999, sempat datang berkunjung ke Indonesia. Ali pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Ibu Pertiwi pada tahun 1973. Pada 20 Oktober 1973 perhelatan akbar antara Ali bertarung melawan Rudi Lubbers berlangsung, selama 12 ronde dalam pertandingan kelas berat tanpa gelar di Istora Senayan, Jakarta. Oleh publik dan pers Indonesia, pertandingan Ali Vs Lubbers disebut-sebut sebagai pertandingan eksibisi belaka, namun nyatanya ini adalah pertandingan resmi walau tidak memperebutkan gelar.
Setelah beberapa kali melakukan kunjungan ke Indonesia, Ali yang memang telah pensiun dari dunia tinju itu terakhir kali menginjakkan kakinya di bumi Pertiwi pada 23 Oktober 1996 dan sempat bertemu beberapa pejabat tinggi negeri ini. “Sebuah negara yang unik, dimana penduduknya sangat bersahabat dan selalu tersenyum kepada siapa pun,” kesan Ali tentang Indonesia.



Masa Tua: Kesehatan yang Kian Memburuk

Disebutkan dalam laporan medis yang dilakukan di Mayo Clinic, sebelum pertandingan Ali Vs Holmes berlangsung, Ali sempat dinyatakan menderita gejala sindrom Parkinson sejak 1984 seperti tangan yang gemetar, bicara yang mulai lamban, serta ada indikasi bahwa terjadi kerusakan pada selaput (membran) di otak. Sindrom Parkinson merupakan penyakit khas yang menimpa para petinju, dan biasanya disebabkan oleh sering terkena pukulan khususnya pada bagian kepala. Namun Don King sang promotor tinju merahasiakan hasil medis itu, sehingga pertandingan Ali Vs Holmes tetap berlangsung tanpa kendala. Sebelum pertandingan melawan Larry Holmes itu, Dr Ferdie Pacheco, dokter pribadi yang telah mendampingi Ali selama puluhan tahun, dengan terpaksa mengundurkan dirinya karena beranggapan bahwa Ali tidak mau mendengarkan nasehatnya untuk menolak atau membatalkan pertandingan melawan Holmes. Dalam salah satu buku biografi Muhammad Ali, Pacheco pernah mengemukakan bahwa selama latihan, Ali sempat kencing darah akibat kerusakan ginjal akibat terkena pukulan. Ia juga mengemukakan bahwa Ali sudah mengalami gejala sindrom Parkinson sejak sebelum pertandingan tersebut. Setelah pertandingan tersebut usai, dilakukanlah cek medis ulang untuk memastikan hasil test sebelumnnya, dan hasilnya menguatkan hasil sebelumnya.

Selamat Jalan Kawan!

Tak hanya Ali, pelatihnya pun, Dundee, kini turut “lapuk dimakan usia”. Menjadi pelatih tinju bukan semata soal disiplin terhadap program dan perintah untuk anak didik. Esensi menjadi pelatih sebenarnya adalah bagaimana berperan sebagai motivator untuk anak didiknya. Bagaimana menciptakan anak didik seperti tersengat listik tatkala sang pelatih memerintahkan secara tegas dan segera dilakukan hal-hal khusus pada anak didiknya.
Khusus untuk arena tinju profesional banyak dikenal pelatih hebat kaliber dunia, misalnya saja adalah:



Salah satu pelatih tinju paling legendaris di dunia baru saja meninggal dunia pada 1 Februari 2012 silam, yaitu Angelo Dundee (91). Pria yang lahir pada 30 Agustus 1921 di Philadelphia, AS ini pada awalnya memiliki nama Angelo Mirena. Mirena adalah adalah nama orang tuanya imigran dari Calabira Italia. Orang tua Angelo lalu terilhami menambahkan nama Dundee kepada Angelo karena tertarik dengan petinju legendaris Italia Joe Dundee (1920). Jadilah ia dipanggil dengan nama Angelo Dundee.

Dundee (kiri), Ali (kanan)


Menjadi pelatih Muhammad Ali bukanlah yang utama kehebatan seorang Angelo, yang terpenting adalah bagaimana ia bisa membentuk karakter Muhammad Ali menjadi kuat dan tenang. Ia membuat Muhammad Ali dan Sugar serta Foreman menjadi begitu tenang namun menyengat lawan dengan kecepatan luar biasa bak Singa ganas di padang rumput Sarangeti, Tanzania. Artinya, Dundee mempunyai karakter unik dan kharismatik untuk menjadi pelatih yang istimewa bagi anak didiknya. Meskipun Angelo jauh lebih tua dan menjadi pelatih bagi petinju muda yang belum merasakan diri menjadi Bos, sebaliknya juga ia tidak merendahkan dirinya pada anak didiknya seperti bekerja untuk seorang Bos.
Tak heran Muhammad Ali memberi kesaksiannya pada sebuah biografi Muhammad Ali yang ditulis David Remnick pada sebuah buku yang berjudul King of the World, 1998. Hubungan keduanya sudah selayaknya seperti teman. Bahkan dalam hal bertukarnya keyakinan agama Ali menjadi Muslim dan penolakan Ali untuk ikut serta dalam wajib militer dalam perang Vietnam, Dundee mengakui kesaksiannya bahwa ia hanya bisa menunggu Ali sampai reda emosionalnya. Dundee mengakui mengetahui banyak hal dalam kedua peristiwa penting Ali tersebut. Tidak itu saja, kepada penulis biografi lainnya Jose Torres, Ali memberi penilaian hebat kepada Dundee “Dia bukan Bos saya. Saya bisa bebas kemana mau pergi dan kemana yang kuinginkan.”, jelas Ali.
Awal perjumpaan Ali dan Dundee memang sangat tidak mengenakkan, tatkala Ali menemui Dundee di sebuah hotel di Amerika Serikat (1959). Barulah setahun kemudian (1960) Ali memperoleh kepastian. Meskipun Ali sempat ngambek namun keduanya setuju menjadi “ayah dan anak”. Mereka memulai debut pertama pro tatkala Ali menjungkalkan juara tinju dunia pada saat itu, Sonny Liston.
Kemudian keduanya melanglang buana dari satu negara ke negara lain menyambut tantangan demi tantangan. Bersama Dundee, Ali meraih gelar juara dunia enam kali. Bersama Ali juga ia merasakan pahit getirnya perjuangan merebut tahta dunia, terutama saat Ali pernah beberapa kali gagal dan kalah, misalnya saat berhadapan dengan Joe Frazier (1971), Larry Holmes (1980) dan Tervor Berbick (1981). Sampai akhirnya Ali memutuskan “gantung sarung tinju” pada tahun 1981 setelah dikalahkan oleh Berbick dalam pertarungan yang bertajuk “Drama in Bahama” saat Ali benar-benar sudah renta dan benar-benar “habis” seperti singa tua yang sudah tak tajam lagi taring dan cakarnya. Di situlah terjadi peristiwa Dundee melempar handuk putih ke tengah-tengah ring meskipun Ali masih sanggup berdiri.
Dari peristiwa inilah tugas Dundee melatih Ali selesai. Meskipun lebih dari 31 tahun Ali berhenti dari tinju namun hubungan emosional keduanya yang telah dirintis selama hampir 21 tahun tidak akan berlalu begitu saja. Keduanya sering terlibat komunikasi dan saling memberi kabar. Bahkan pada acara ulang tahun Ali ke 70 tahun pada pertengahan Januari 2012 lalu, Dundee datang dengan riang gembira tanpa tanda apapun.
Setelah bertemu Ali, Dundee mengatakan mereka hampir setiap hari berkomunikasi karena Ali telah menganggapnya sebagai keluarga. ”Biar cuma sebentar karena dia tidak dapat berbicara banyak, kami berbagi kabar dan semangat.”
Lebih lanjut, dalam pertemuan dengan Ali, Dundee yang lebih senang dipanggil Anggie oleh Ali mengenang kembali memorialnya, salah satunya adalah ketika Ali menyampaikan keinginannya untuk berlatih tinjut kembali. “Ali seperti merengek ingin rasanya bertinju kembali, ” katanya. Dundee pada kesempatan itu memberikan jawaban bijaksana yang luar biasa halusnya. “Aku juga ingin berlatih, Nak. Tapi kita tidak bisa melakukan itu. Yang kulakukan sekarang adalah meyakinkanmu bahwa aku mencintaimu.”
Beberapa saat sebelum meninggal, Dundee juga mengenang pertemuannya terakhir dengan Ali, dalam canda tawa ia mengatakan “Dia satu-satunya petinju yang datang dan mengatakan: saya ingin jadi yang terbaik,” kata Dundee. “
Pelatih yang telah mengantarkan sukses 15 petinju merebut gelar juara di berbagai kelas dan versi itu, akhirnya meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 2012 silam, di Tampa, Fla, Amerika Serikat, atau bertepatan tanggal 2 Februari di Indonesia. Kepergiannya bukan saja meninggalkan duka bagi dunia tinju yang telah kehilangan pioner pelatih tinju yang bertalenta hebat, tapi juga meninggalkan duka mendalam bagi Ali yang baru saja dilanda duka akibat mantan musuh bebuyutannya Joe Frazier juga telah mendahului meninggal pada November 2011 lalu. Di tengah penderitaan Parkinson yang menyerang saraf motoriknya, ia berusaha tersenyum melambaikan tangan memberi ucapan salam perpisahan dan terima kasih kepada Dundee yang kali ini benar-benar pergi meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi…

Keluarga

Pasangan Hidup

Sebagai seorang petinju, Ali memiliki seorang istri dan tiga mantan istri. Istri pertama yang dinikahi Ali adalah Sonji Roi. Mereka berdua menikah pada 14 Agustus 1964. Dua tahun berselang tepatnya pada 10 Januari 1966, rumah tangga mereka kandas. Perceraian ini dilatar belakangi oleh pendapat Ali yang menganggap bahwa Roi tidak berpakaian dan berperangai seperti wanita muslimah.
Setelah bercerai dengan Roi, Ali pun kembali membangun bahtera rumah tangganya dengan Belinda Boyd pada 17 Agustus 1967. Belinda pun merubah namanya menjadi Khalilah Ali setelah resmi menikah. Ali dan Khalilah akhirnya bercerai dikarenakan Khalilah mendapati Ali berselingkuh dengan wanita lain, Veronica Porche Anderson. Dalam film dokumenter Ali "When We Were Kings" ditunjukkan Khalilah 'melabrak' Ali di arena tinju, menjelang pertandingan Ali Vs Foreman di Zaire, 1975 silam. Pada tahun 1977, Ali dan Belinda resmi bercerai.
Pada tahun yang sama, Ali kembali menikah dengan seorang model bernama Veronica Porche Anderson yang lebih dikenal dengan nama Veronica Ali. Ali dan Veronica resmi bercerai pada tahun 1986.
Pada 19 November 1986, Ali kembali menikah dengan Yolanda Lonnie Williams. Mereka berdua telah menjadi kawan semenjak 1964 di Louisville.Hingga sekarang, Ali dan Lonnie tetap menjadi pasangan suami istri.

Buah Hati

Ali dikaruniai beberapa anak hasil dari pernikahannya dengan istri kedua dan ketiganya, walau ia tak dikaruniai anak oleh istri pertamanya, Roi. Dari istri keduanya, Khalilah Ali, ia dikaruniai sepasang anak kembar bernama Jamilah dan Rasheda, Maryum, serta Muhammad Ali, Jr.Sedangkan dari istri ketiganya, Veronica Ali, keduanya dikaruniai 2 anak, yaitu Hanna Yasmeen Ali dan Laila Ali. Laila Ali bertekad untuk meneruskan perjuangan ayahandanya menjadi seorang petinju wanita yang berangan untuk menjadi juara dunia tinju wanita. Keinginannya menjadi seorang petinju itu diwujudkan pada tahun 1999. Ali dan Lonnie tidak memiliki buah hati. Oleh karena itu, mereka mengadopsi seorang anak yang diberi nama Asaad Amin yang diadopsi saat usia Amin baru menginjak 5 bulan. Ali pun diketahui memiliki 2 orang putri dari hubungan di luar pernikahan, yaitu Khaliah dan Miya, sehingga, diketahui Ali memiliki 7 orang putri dan 2 orang putra.

Sumber (disunting sesuai keperluan)

Suka dengan artikel di blog ini? Silakan berlangganan gratis via email

0 Response to "Biografi Muhammad Ali, “The Sportsman of the Century”"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di website ini.

Jika berkenan, mohon berkomentar yang RELEVAN dengan bahasa yang santun.

Semua komentar selalu saya baca meskipun tidak semuanya dibalas. Harap maklum :)

Contact Form

Name

Email *

Message *