Penetapan Normalitas (Standarisasi) HCl 0,05 N Dengan BBP Boraks (Na2B4O7 . 10 H2O)


Dasar
HCl merupakan Bahan Baku Sekunder (BBS) yang konsentrasinya tidak dapat dihitung secara teoritis, oleh karena itu perlu distandarisasi dengan BBP salah satunya dengan Boraks. Boraks dipilih karena merupakan garam normal bersifat sedikit basa sehingga dapat bereaksi dengan HCl, dan akan dihasilkan Asam Borat (H3BO3). Oleh karena itu indikator yang dipakai adalah yang tidak terlalu dipengaruhi oleh Asam Borat tadi, yaitu Merah Methyl (MM) dengan TE berkisar pada pH ± 4,5 dan warna TA = sindur.

Reaksi
Na2B4O7 . 10 H2O --> Na2B4O7 + 10 H2O
Na2B4O7 + 2 HCl (ind. MM) + 5 H2O --> 2 NaCl + 4 H3BO3

Tujuan
Menetapkan normalitas HCl 0,05 N secara tepat dengan BBP Boraks (Na2B4O7 . 10 H2O)

Alat dan Bahan
Alat
  • Kaca arloji
  • Labu ukur 100 mL
  • Pengaduk
  • Pipet volumetri 10 mL dan bulb
  • Erlenmeyer
  • Buret 50 mL
  • Corong
  • Gelas ukur
  • Piala gelas 400 dan 800 mL
  • Labu semprot
  • Pipet tetes
  • Pembakar teklu
  • Kaki tiga dan kasa asbes
  • Statif dan klem
  • Alas titar dan alas baca buret
Bahan
  • Hablur Boraks
  • Air suling
  • HCl 0,05 N
  • Indikator MM
  • Kertas saring penyeka
  • Kertas pengganjal corong
  • Korek api
Cara Kerja
  1. Alat dan bahan yang diperlukan disiapkan dan ditata di atas meja kerja,
  2. Ditimbang ± 0,5 gram Boraks,
  3. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, dilarutkan dengan labu ukur lalu diseka, dihimpitkan, dan dihomogenkan,
  4. Dipipet 10,00 mL larutan Boraks ke dalam erlenmeyer, kemudian diencerkan dengan air suling hingga volumenya 100 mL,
  5. Larutan diteteskan 2 – 3 tetes indikator MM
  6. Larutan dititar dengan HCl 0,05 N hingga mencapai TA (Titik Akhir) berwarna sindur, dan
  7. Serangkaian tahapan pekerjaan dilakukan minimal duplo dengan selisih volume penitar maksimal 0,10 mL.

Perhitungan

Keterangan
Np                    = Normalitas penitar
mg BBP          = mg Boraks yang ditimbang
Vp                               = volume titran yang dibutuhkan
FP                    = faktor pengenceran
Bst Boraks    = ½ Mr = 191

Pembahasan
HCl merupakan bahan baku sekunder sehingga kenormalannya tidak dapat dihitung secara teoritis, hal ini dikarenakan HCl merupakan senyawa yang kurang mantap karena mudah menguap. Meskipun demikian, daya reaksi HCl tergolong mantap sehingga biasanya digunakan sebagai titran dalam metoda asidimetri (tentunya melalui proses standarisasi). Adapun bahan baku primer yang digunakan untuk menstandarisasi HCl haruslah bersifat kebalikannya, yaitu basa. Karena inilah Natrium Tetra Borat (Na2B4O7 . 10 H2O) digunakan karena tergolong garam normal yang bersifat basa. Natrium Tetra Borat yang biasa disebut boraks ini, biasanya digunakan oleh oknum – oknum nakal sebagai pengeyal pada makanan. Hal ini tidak dibenarkan karena Boraks merupakan zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika masuk ke dalam tubuh.
 Bahan baku primer yang digunakan untuk menstandarisasi BBP haruslah memenuhi beberapa syarat, antara lain:
  • Murni dan dapat dimurnikan,
  • Dapat dikeringkan dan tidak higroskopis (tidak menyerap air),
  • Dapat larut dalam pelarut yang cocok,
  • Dapat bereaksi secara stoikiomiteri,
  • Mantap dalam bentuk larutan dan padatan, dan
  • Memiliki bobot setara (bst) yang relatif besar sehingga mengurangi kesalahan dalam penimbangan.
          Agar volume titran yang diperlukan ± 10 mL, maka pada penitaran ini Boraks yang ditimbang sebesar ± 0,955 gram. Akan tetapi, Boraks memiliki kelarutan yang agak sulit di dalam air, karenanya jumlah yang ditimbang hanya ± 0,5  gram. Secara teoritis, jika untuk standarisasi HCl 0,05 N dengan Boraks yang ditimbang ± 0,5 gram dan dilarutkan di dalam labu ukur 100 mL, maka volume titran yang dibutuhkan ± 5 mL.
Sebelumnya telah dibahas standarisasi HCl dengan BBP soda kering. Ada beberapa keuntungan dan kelebihan dari masing – masing BBP, antara lain:
  • Boraks memiliki Bst yang lebih besar dibandingkan soda kering sehingga Boraks memiliki persentase kesalahan yang lebih kecil saat penimbangan,
  • Boraks lebih sulit larut dalam air dibandingkan soda kering,
  • Dengan memakai soda kering sebagai BBP, maka konsekuensinya pada akhir penitaran larutan harus dididihkan. Akan tetapi, jika dengan Boraks larutan tidak perlu dididihkan sehingga mempercepat pekerjaan,
  • Boraks lebih berbahaya daripada soda kering jika masuk ke dalam tubuh manusia, oleh karena itu pemakaian Boraks harus dilakukan dengan lebih hati – hati.
Indikator merupakan syarat yang penting bagi titrasi. Pada netralisasi, indikator yang digunakan adalah indikator pH yang bekerja dengan perubahan warna yang tajam pada pH tertentu. Pada penetapan ini digunakan MM karena terbentuk Asam Borat (H3BO3) yang bersifat asam. Tidak seperti Asam Karbonat, Asam Borat tidak dapat dihilangkan dari larutan. Oleh karena itu digunakan indikator yang tidak dipengaruhi oleh keberadaan Asam Borat, yaitu MM dengan TA sindur (pH saat TA ± 4,5).

Daftar Pustaka
Sulistiowati, S.Si, M.Pd; Nuryati, M.Pd, Dra. Leila; Yudianingrum, R. Yudi, 2014, Analisis Volumetri, Bogor : SMK – SMAK Bogor.

Standarisasi HCl, standarisasi HC dengan Boraks, Normalitas HCl dengan boraks

Suka dengan artikel di blog ini? Silakan berlangganan gratis via email

0 Response to "Penetapan Normalitas (Standarisasi) HCl 0,05 N Dengan BBP Boraks (Na2B4O7 . 10 H2O)"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di website ini.

Jika berkenan, mohon berkomentar yang RELEVAN dengan bahasa yang santun.

Semua komentar selalu saya baca meskipun tidak semuanya dibalas. Harap maklum :)

Contact Form

Name

Email *

Message *