Merdeka!!! : Secercah Cahaya Harapan Baru


Assalamualaikum! Udah lama gak posting di blog terpencil ini, mumpung punya waktu senggang gan. Apalagi ane istirahat total dari KBM hampir 4 hari berturut – turut (Jumat cuma masuk setengah hari, Sabtu Minggu libur, Senin masuk upacara kemerdekaan lanjut sama LB sedikit doangan kok). Alhamdulillah masih dikasih istirahat walaupun tetep aja banyak tugas -_-

Oh iya, ilustrasi di atas itu sebenernya ane dapetin waktu 17 Agustus tahun lalu dari salah satu fanpage di Facebook (ane lupa nama FP nya), tapi ane fikir masih bisa dipake lagi untuk tahun ini gan.
Nah, kawan – kawanku khususnya yang se-bangsa serta se-tanah air dimanapun kita semua berada, di hari yang sarat akan tonggak sejarah ini ane mau posting sesuatu yang terlintas sejenak di fikiran ane, yaitu tentang Hari Kemerdekaan RI.

Menurut sejarah, Indonesia telah dijajah oleh bangsa asing selama hampir 350 tahun lamanya, dimulai dari Belanda, Inggris (walaupun bisa dibilang yang satu ini cuma mampir sekelebatan doangan dan biasanya gak masuk di buku pelajaran sejarah), dan Jepang. Kalo dipikir – pikir dan dibayangkan dengan segenap hati, mungkin zaman itu adalah “zaman neraka dunia” kali ya, berbagai penderitaan muncul dan kian bertambah setiap harinya. Buku – buku sejarah mengatakan bahwa penderitaan saat itu adalah kemiskinan, kesengsaraan, penindasan, monopoli, kerja rodi dan romusha, diasingkan, bahkan ada juga penduduk yang dikirim paksa ke Suriname untuk jadi pekerja disana, dan mungkin gak akan pernah ketemu sanak keluarga lagi kayaknya sampe akhir hayatnya, dan segudang penderitaan yang takkan mungkin diungkapkan dengan kata – kata.

Akan tetapi, mulai saat itu juga berbagai pribadi dan kelompok dari seluruh pelosok tanah air melakukan perlawanan terhadap kolonialisme, beliau – beliau inilah kelak yang kita kenal pada zaman ini adalah “PAHLAWAN”. Pahlawan, menurut definisi ane, adalah orang atau sekumpulan orang yang ikhlas dan rela mengorbankan apa yang menjadi miliknya (bahkan rela untuk menderita dan gugur) demi kemaslahatan dan kebaikan bersama, demi menjadi insan yang lebih baik dan lebih bermartabat lagi.

 “Sebenarnya, kita semua bisa menjadi pahlawan.”, itulah yang pernah ane dengar dari banyak pidato kemerdekaan, dari guru – guru, maupun dari para motivator. Akan tetapi, sudahkah kita merealisasikannya? Itulah pertanyaan yang muncul di hati kecil ane.

Para pahlawan terdahulu, mewujudkan kata pahlawannya dengan berperang melawan ketidak-adilan dan penderitaan akibat kolonialisme, dengan mengacungkan bambu runcing dan senjata tradisional lainnya, tak lupa menerapkan disiplin perang gerilya yang membuat pasukan penjajah kewalahan bahkan banyak juga yang mati di tangan para pejuang kita. Namun pertanyaannya, adakah cara yang dapat kita lakukan untuk menjadi “pahlawan” di masa ini? (catatan : seorang pahlawan bukanlah sekedar tertulis di catatan sejarah, bukan juga sekedar dimakamkan di TMP, melainkan lebih berharga daripada itu).

Sesuai yang terpampang dalam buku paket PKn, ada istilah yang menggambarkan pahlawan kemerdekaan masa kini, biasa dikenal dengan istilah “mengisi kemerdekaan”. Menurut ane pribadi, mengisi kemerdekaan adalah partisipasi atau sumbangsih konkret seseorang terhadap bangsanya, demi mempertahankan kemerdekaan dan menghargai jasa para pahlawannya. Mengisi kemerdekaan dapat dilakukan semua orang, dimanapun, dan kapanpun. Bentuk konkretnya seperti pemimpin negara yang amanah dan bertanggung jawab, para guru yang mengajarkan dan mendidik murid – murid agar menjadi lebih baik lagi, para pelajar yang belajar dengan giat dan tekun agar menjadi penerus bangsa ini yang membawa ke arah yang lebih baik lagi, para aparat negara yang bekerja demi keamanan, pertahanan, dan tegaknya supremasi hukum di Indonesia, para pedagang, buruh, nelayan, analis dan peternak yang terus bekerja demi terpenuhinya kebutuhan harian rakyat itupun termasuk ke dalam upaya mengisi kemerdekaan.

Di usia Indonesia yang menginjak 70 tahun ini, marilah kita segenap tumpah darah Indonesia terus berkarya dan berikhtiar semaksimal mungkin demi menyongsong kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik lagi, demi membuat Indonesia lebih eksis dan berprestasi lagi di mata dunia.

Paragraf terakhir, untuk segenap lapisan masyarakat (khususnya para pelajar) yang mengikuti upacara bendera, baik itu upacara kemerdekaan maupun upacara rutin pengibaran bendera hari Senin, alangkah baiknya jika kita fokus dan tenang saat upacara berlangsung, jangan sampai bercanda atau ngobrol sesuatu yang tidak terlalu penting khususnya saat pengibaran bendera Merah – Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, karena dengan fokus dan tenang saat upacara berlangsung itupun merupakan cara pelajar mengisi kemerdekaan dengan menghargai para pahlawan. Ingat lho, zaman penjajahan itu untuk mengibarkan bendera Merah – Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya taruhannya adalah nyawa. Masih ingatkah dengan peristiwa Hotel Yamato di Surabaya (kalo gak salah, pelajaran SMP soalnya), para pejuang ingin mengibarkan bendera Merah – Putih dengan cara merobek warna biru dari bendera Belanda? Atau peristiwa dimana Sang Saka Merah – Putih terpaksa dipisahkan menjadi sehelai kain merah dan kain putih karena khawatir ketahuan dan diambil penjajah?

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Suka dengan artikel di blog ini? Silakan berlangganan gratis via email

2 Responses to "Merdeka!!! : Secercah Cahaya Harapan Baru"

Terima kasih sudah berkunjung di website ini.

Jika berkenan, mohon berkomentar yang RELEVAN dengan bahasa yang santun.

Semua komentar selalu saya baca meskipun tidak semuanya dibalas. Harap maklum :)

Contact Form

Name

Email *

Message *