Mengenal Uji Nyala, Praktikum Kimia Penuh Warna yang Seru dan Mengasyikkan

Kembang Api, Salah Satu Aplikasi Uji Nyala

Pernahkah kalian menonton pertunjukan kembang api? Pasti pernah dong, masa nggak pernah sih? Hehehe.

Pertunjukan kembang api sering diadakan saat momen pergantian tahun Masehi. Saat malam tahun baru tiba, langit akan berwarna-warni dan semakin semarak pada puncaknya pukul 00.00.

Tapi tahukah kamu apa sih yang menyebabkan kembang api begitu berwarna-warni? Ada warna merah, kuning, ungu, biru, hijau, oranye, bahkan warna putih terang.

Fenomena yang terjadi pada pesta kembang api ternyata sama persis dengan uji nyala! Bagi kamu yang suka kimia pasti pernah mendengar uji nyala.

Baiklah, langsung saja kita bahas mengenai uji nyala. Cekidot!

1. Pengertian Uji Nyala

Uji nyala, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut flame test, termasuk salah satu jenis analisis kualitatif untuk menentukan kandungan logam yang terdapat pada sampel.

Maksudnya, uji nyala ini hanya dapat menentukan jenis logam apakah yang terkandung dan tidak bisa untuk menentukan jumlah kandungan logam tersebut.

Uji nyala merupakan salah satu uji kualitatif yang paling sederhana, tidak membutuhkan banyak alat maupun bahan.

Selain itu, warna-warni yang ditimbulkan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pelajar yang melakukan praktikum ini.

Dijamin deh kalau uji nyala adalah salah satu praktikum kimia yang paling asyik dan menyenangkan, hehehe.

Meskipun demikian, hasil dari uji nyala tidak dapat digunakan untuk menentukan kandungan logam secara pasti. Hal ini disebabkan karena definisi warna dan penglihatan mata setiap orang berbeda-beda.

Untuk itulah, untuk lebih memastikan hasil dari uji nyala perlu dilakukan analisis pemisahan kation yang hasilnya lebih spesifik dan lebih dapat dipertanggung jawabkan.

2. Mekanisme dan Fenomena Yang Terjadi Pada Uji Nyala

Setiap atom pasti memiliki elektron, yaitu partikel bermuatan negatif yang mengelilingi inti pada orbitnya..

Menurut teori dan model atom Bohr, dijelaskan bahwa sebuah elektron dapat menyerap energi dari luar atom sehingga mengalami eksitasi.

Eksitasi adalah peristiwa berpindahnya elektron dari tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi.

Karena keadaan eksitasi membuat atom menjadi tidak stabil, maka elektron tersebut berpindah lagi ke posisi semula sambil melepaskan foton. Peristiwa ini disebut de-eksitasi.

Foton yang dipancarkan saat proses de-eksitasi memiliki nilai panjang gelombang yang nilainya berbeda-beda tergantung jenis unsur.

Misalnya, panjang gelombang yang dimiliki oleh atom Kalsium tentu berbeda dengan atom Natrium.
Meskipun demikian, panjang gelombang tersebut masih berada di daerah visible.

Maksudnya, daerah cahaya tampak ini memiliki panjang gelombang antara 380 hingga 780 nm sehingga masih dapat dilihat oleh mata manusia.

Panjang gelombang yang dihasilkan ini menentukan warna apa yang dihasilkan.

Misalnya, unsur Barium (Ba) mampu menghasilkan sinar emisi dengan panjang gelombang 554 nm. Warna yang dihasilkan dari panjang gelombang 554 nm adalah warna hijau.

Baca juga: Pemisahan dan Identifikasi Kation Golongan I

3. Bagaimana Prosedur Uji Nyala?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa uji nyala termasuk salah satu uji kualitatif yang paling mudah dilakukan dan tidak membutuhkan banyak alat dan bahan.

Alat yang dibutuhkan dalam uji nyala antara lain:
  • Ose atau kawat platina atau kawat nikrom
  • Pembakar teklu atau Bunsen
  • Tabung reaksi

Pertama, sampel yang akan dianalisis harus berupa larutan. Jika masih dalam bentuk padatan seperti serbuk, maka harus dilarutkan dengan air.

Yang harus diperhatikan pada saat pembuatan larutan uji nyala adalah konsentrasinya. Pastikan konsentrasi larutan sampel tidak terlalu pekat dan tidak terlalu encer.

Jika konsentrasi larutan terlalu pekat, maka intensitas warna yang dihasilkan terlalu kontras sehingga terkadang membingungkan dalam pengamatannya.

Kebalikannya, jika konsentrasinya terlalu encer maka intensitas warna yang dihasilkan terlalu tipis sehingga sulit diamati.

Kedua, celupkan ose atau kawat platina ke dalam HCl pekat lalu dipijarkan dengan pembakar teklu.

Ini bertujuan untuk membersihkan ose atau kawat platina dari kotoran yang mungkin menempel.

Ketiga, ose yang sudah dibersihkan tadi dicelupkan ke dalam larutan sampel yang ingin diuji. Perlu diperhatikan bahwa api yang digunakan adalah api zona pengoksidasi bagian bawah.

4. Pengamatan

Untuk mengetahui logam apakah yang terdapat dalam sampel, warna yang dihasilkan harus dibandingkan dengan referensi, bisa dilihat pada tabel dan gambar berikut (silakan klik untuk zoom atau download)


Penutup…

Bagaimana? Asyik bukan mengamati warna pada uji nyala?

Sekedar curhat bahwa pada saat SMK dulu saya pernah melakukan praktikum uji nyala. Bukan main menyenangkannya mengingat praktikum ini sangat mudah, simpel, nyantai dan tentunya menarik.

Tetapi semuanya menjadi tidak asyik lagi saat masa-masa ujian pun datang. Saat itu agak sulit membedakan antara warna uji nyala unsur Kalsium dengan Stronsium.

Dan teman-teman angkatan saya pun banyak yang remedial karena hal sepele ini…

Baiklah, terima kasih sudah membaca postingan mengenai uji nyala ini. Semoga bermanfaat :)

Sumber : Vogel Analisis Kualitatif dan Wikipedia

Suka dengan artikel di blog ini? Silakan berlangganan gratis via email

0 Response to "Mengenal Uji Nyala, Praktikum Kimia Penuh Warna yang Seru dan Mengasyikkan"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di website ini.

Jika berkenan, mohon berkomentar yang RELEVAN dengan bahasa yang santun.

Semua komentar selalu saya baca meskipun tidak semuanya dibalas. Harap maklum :)

Contact Form

Name

Email *

Message *